4 Comments

Keutamaan Laa ilaaha Illallah, Subhanallah dan Alhamdulillah

Berikut ceramah dari Habibana Munzir mengenai keutamaan Laa ilaaha Illallah, Subhanallah dan Alhamdulillah.

sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi :

لَا إِلهَ إِلّا الله حِصْنِيْ فَمَنْ قَالَهَا دَخَلَ حِصْنِيْ وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ أَمِنَ مِنْ عَذَابِيْ

“ Laa ilaaha illallah adalah benteng-Ku (Allah), barangsiapa yang membacanya maka ia telah masuk ke dalam benteng-Ku, dan barangsiapa yang telah masuk ke dalam benteng-Ku sungguh ia telah aman dari siksa-Ku”.

Hadits qudsi tersebut juga diperkuat dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

مَنْ قَالَ لَا إِلهَ إِلّا الله خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“ Barangsiapa yang mengucapkan “Laa ilaaha Illallah” murni (ikhlas) dari hatinya maka ia masuk surga”

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari:

مَن اغْبرَّتْ قَدمَاهُ في سَبِيْلِ اللَّهِ حَرَّمَهُمَا اللَّهُ عَلى النَّارِ

“ Barangsiapa yang kedua kakinya terkena debu di jalan Allah, maka Allah haramkan darinya api neraka”

Hadirin yang dimuliakan Allah
Di malam ini kita masih akan menimba dan mendalami kemuliaan makna kalimat “Al Hamdu Lillah”, pujian kepada Allah subhanahu wata’ala yang mana dengan memuji-Nya kita dicintai-Nya dan dihapuskan dosa-dosa dari kita. Puijian kepada Allah dengan kalimat “ Al Hamdu Lillah”, atau kalimat “Subhanallah” atau dengan memadukan keduanya “Subhaanallah Wabihamdih” atau yang lainnya. Kalimat Tasbih (Subhanallah) dan Tahmid (Alhamdu Lillah) memiliki makna yang sama yaitu mengagungkan dan memuji Allah subhanahu wata’ala. Mensucikan nama Allah dengan mengucap kalimat “Subhanallah” adalah bagian dari pujian kepada Allah subhanhahu wata’ala dan bagian dari ucapan “Alhamdulillah”. Begitu juga seluruh perbuatan tasyakuran merupakan bagian dari pujian kepada Allah subhanahu wata’ala atas kenikmatan yang dilimpahkan kepada kita, Sujud syukur merupakan bagian daripada memuji Allah subhanahu wata’ala. Maka segala macam perbuatan syukur adalah merupakan pujian kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan Allah subhanahu wata’ala melipatgandakan kenikmatan bagi hamba yang memuji-Nya dan bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman-Nya :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (إبراهيم : (7 )

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) bagi kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. ( QS. Ibrahim : 7 )

Allah subhanahu wata’ala berjanji akan melipatgandakan kenikmatan untuk hamba jika ia bersyukur. Adapun ungkapan syukur yaitu dengan memuji Allah subhanahu wata’ala baik berupa perbuatan, ucapan atau dengan sanubari maka kesemua itu adalah termasuk ke dalam makna kalimat luhur “Alhamdulillah”. Semoga kita semua di malam hari ini yang telah Allah masukkan ke dalam samudera “Alhamdulillah”, Allah subhanahu wata’ala melipatgandakan kenikmatan bagi kita dan menjauhkan segala musibah dari kita zhahir dan bathin di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ( المجادلة : 11 )

“ (Niscaya) Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS : Al Mujadilah)

Sayyidina Abdullah bin Abbas Ra dalam menjelaskan makna ayat ini beliau berkata bahwa orang yang beriman dan yang memiliki atau menuntut ilmu akan ditinggikan derajatnya 700 derajat, dimana dalam setiap derajatnya sejauh 300 tahun perjalanan. Maka selayaknyalah bagi kita untuk senantiasa memperdalam ilmu, karena semakin dalam ilmu pengetahuan kita maka akan semakin memahami kemuliaan rahasia-rahasia pujian kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka menjauhi dan meninggalkan perbuatan maksiat adalah merupakan bagian dari makna kalimat “Alhamdulillah”, menyesali atas perbuatan-perbuatan dosa adalah merupakan bagian dari kalimat Alhamdulillah, menyesali setiap kesalahan yang telah lalu serta ingin memperbaiki diri juga merupakan bagian dari makna kalimat “Alhamdulillah”, maka semua perbuatan luhur berpadu dalam samudera “Alhamdulillah”. Sebagaimana yang telah kita bahas di majelis yang lalu bahwa ketika kalimat luhur ini diucapkan maka hal itu akan memenuhi timbangan amal baik seseorang. Oleh karena itu setiap kalimat yang mengandung pujian kepada Allah subhanahu wata’ala yang diantaranya adalah kalimat tasbih “Subhaanallah”, adalah merupakan pujian kepada Allah subhanahu wata’ala karena ucapan tasbih adalah mensucikan Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala Maha Suci dan tidak butuh untuk disucikan, namun dengan kita mensucikan nama Allah subhanahu wata’ala maka Allah akan mensucikan kita, menjauhkan kita dari musibah dan menggantikan musibah yang akan datang dengan anugerah kenikmatan, Allah akan melimpahkan rizki yang luas kepada kita. Disebutkan dalam kitab Adab Al Mufrad oleh Al Imam Al Bukhari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa nabiyullah Nuh As berwasiat kepada putra-putranya, dimana diantara mereka ada yang beriman dan ada yang tidak beriman. Maka ketika akan wafat, nabiyullah Nuh As berwasiat kepada putra-putranya yang beriman dengan 2 kalimat yang pertama kalimat “Laa ilaaha Illallah”, karena kalimat luhur itu jika ditimbang dengan seluruh alam semesta niscaya kalimat itu akan lebih berat dari semua alam semesta, dan yang kedua adalah kalimat “Subhaanallah wabihamdihi”, karena kalimat luhur itu adalah merupakan shalatnya seluruh makhluk Allah subhanahu wata’ala, dan dari kalimat tersebut Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rizki bagi seluruh makhluk-Nya, rizeki untuk seluruh makhluk-nya ditumpahruahkan dari rahasia pujian kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim:

إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

“ Sesungguhnya ucapan yang paling disenangi oleh Allah subhanahu wata’ala adalah Subhaanallahi Wabihamdih”

Kalimat inilah yang paling disukai oleh Allah subhanahu wata’ala yang mana juga merupakan bagian dari kalimat “Alhamdulillah”. Maka orang-orang yang mengamalkannya, Allah akan memberikan kepadanya hal-hal yang ia inginkan, menjadikan cerah hati dan wajahnya, menjadikan cerah kehidupannya di dunia, wafatnya dan kebangkitannya kelak di akhirat, sebab ia telah menyukai kalimat yang disukai Allah subhanahu wata’ala, sehingga Allah subhanahu wata’ala memberikan kepadanya hal-hal yang ia sukai. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

كَلِمَتانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ حَبِيْبَتَانِ إلى الرَّحمَن : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله العَظِيم

“ Dua kalimat yang ringan di lisan (diucapkan), berat di timbangan (amal baik), disenangi Allah adalah : Subhaanallah Wabihamdihi, Subhaanallah Al ‘Azhim”

Kita perhatikan rahasia kemuliaan di dalam shalat, ketika ruku’ mengucapkan “Subhana rabbiya al ‘azhiim wabihamdihi”, dan ketika sujud mengucapkan “Subhaana rabbiya al a’laa wabihamdihi”. Maka kalimat tasbih dan kalimat tahmid tidak lepas dari ruku’ dan sujud ketika shalat, yang merupakan ibadah yang paling luhur. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim :

أقْرَبُ ما يَكُونُ العبدُ مِنْ ربِّه وهُوَ سَاجِدٌ

“ Keadaan hamba paling dekat dengan Tuhannya (Allah) adalah ketika ia bersujud”

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

“ Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

Adapun bacaan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada dalam bersujud adalah bacaan “Subhaana rabbiya al a’laa wabihamdihi”. Dan tentang kalimat ini telah ditanyakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada malaikat Jibril As, dan dijelaskan oleh Al Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dengan riwayat yang tsiqah, bahwa malaikat Jibril As berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam barangsiapa yang bersujud dan mengucapkan “Subhaana rabbiya al a’laa wabihamdihi”, maka Allah subhanahu wata’ala menjawab :

صَدَقَ عَبْدِيْ أَنَا فَوْقَ كُلِّ شَيْئٍ وَلَيْسَ فَوْقِيْ شَيْئٌ ، أَشْهِدُوْا يَا مَلاَئِكَتِيْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“ Benar (apa yang diucapkan) hamba-Ku, Aku (kekuasaan, kekuatan, kemuliaa, keluhuran Allah) diatas segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu diatas-Ku (tidak ada sesuatu apapun yang mampu menandingin kekuasaan, kekuatan, keluhuran atau keagungan Allah)”,

Inilah diantara rahasia kemuliaan dari kalimat luhur “Subhaana rabbiya al a’laa wabihamdihi” di dalam sujud, dan merupakan bagian dari kemuliaan kalimat “Alhamdulillah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda riwayat Shahih Al Bukhari:

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحْمْدِهِ فِي اليَوْم مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

“ Barangsiapa yang mengucapkan “Subhaanallah Wabihamdih” dalam sehari sebanyak 100 kali, maka dosa-dosanya akan dihapus (oleh Allah) walaupun seperti buih di lautan”

Demikian agungnya rahasia kemuliaan rabbul ‘alamin yang dilimpahkan kepada kita di dalam samudera kalimat “Alhamdulillah”, yang merupakan kalimat yang sangat singkat namun tersimpan di dalamnya rahasia-rahasia yang agung zhahir dan bathin di dunia dan di akhirat, penuntun kepada kesucian serta menjadi modal besar untuk mencapai keridhaan dan cinta Allah subhanahu wata’ala.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita, dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ لم يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka ia tidak/belum bersyukur kepada Allah”

Maka jangan samapi kita memuji Allah subhanahu wata’ala namun melupakan makhluk-Nya. Karena belumlah bersyukur secara sempurna seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala, jika mereka belum berterima kasih kepada manusia. Terdapan belasan riwayat dalam hadits ini,, yang diantaranya diriwayatkan oleh Al Imam Thabrani dan lainnya dengan makna yang sama yaitu belumlah sempurna syukur seorang hamba kepada Allah jika ia belum bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.

Maka jelaslah dari makna hadits ini bahwa pujian kepada manusia adalah bagian dari rasa syukur kepada Allah subhanahu wata’ala, bagian dari pujian kepada Allah subhanahu wata’ala. Sehingga memuji kepada hamba-hamba Allah yang mulia dan shalih yang menjadi pengantar menuju kenikmatan yang Allah berikan kepada seseorang adalah bagian dari syukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka belum sempurna syukur dan pujian kita kepada Allah subhanahu wata’ala, walaupun dengan ribuan tahun beribadah, sebelum kita berbakti kepada kedua orang tua kita, karena merekalah yang menjadi perantara bagi kehiduapan kita. Sehingga belum sempurna kita memuji Allah subhanahu wat’ala, jika kita belum berterima kasih kepada makhluk yang menjadi perantara dan mengantar kita kepada keridhaan Allah subhanahu wata’ala, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka semoga Allah subhanahu wata’ala memberi hidayah orang-orang yang berpendapat bahwa pujian kepada makhluk adalah perbuatan syirik dan kultus. Sungguh hal ini justru memutuskan makna syukur kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan dalil yang jelas riwayat Shahih Al Bukhari dimana ketika orang-orang quraisy mencaci beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga membuat para shahabat merasa sedih, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa mereka (kuffar quraisy) telah menamakan beliau مذمم : Mudzammam (yang banyak dicaci atau dicela), namun namaku adalah محمد : Muhammad ( yang banyak dipuji ).

Demikianlah hamba yang paling banyak dipuji dan paling berhak dipuji dan paling terpuji yaitu makna dari kalimat “Muhammad”. Maka kalimat ini menjadi dalil yang shahih dan jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang memperbolehkan kita ummatnya untuk memuji beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah diberi nama “Muhammad” yaitu orang yang banyak dipuji oleh seluruh makhluk dan banyak dipuji oleh pencipta seluruh makhluk, Allah subhanahu wata’ala. Maka pujian kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bentuk daripada kesempurnaan syukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka terputuslah rahasia makna “Alhamdulillah” dan kemuliaannya tanpa kita mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabda beliau shallall ahu ‘alaihi wasallam :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حتى أَكُونَ أَحَبَّ إليه مِنْ وَلَدِه وَوَالِدِه وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“ Tidak beriman (dengan iman yang sempurna) salah seorang diantara kalian, hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya dan kedua orang tuanya, serta dari semua manusia”

Maka kesempurnaan iman seseorang adalah dengan melebihkan sang nabi untuk dicintai dari seluruh makhluk Allah subhanahu wata’ala. Sampai disini sedikit telah kita fahami rahasia samudera kemuliaan kalimat “Alhamdulillah” dari kitab Ar Risaalah Al Jaamiah yang ditulis oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Muhammad bin Zen Al Habsyi Ar, yang dikatakan oleh gurunya yaitu Hujjatul Islam Al Imam Abdullah bin ‘Alawy Al Haddad sahib Ar Raatib Ar, beliau berkata bahwa salah satu muridnya yang sampai derajat ilmu syariatnya kepada Al Imam As Syafii adalah Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi. Begitu juga rahasia kemuliaan sanad keguruan adalah merupakan wujud syukur kepada Allah subhanahu wata’ala, dan agar sempurna syukur kita kepada Allah subhanahu wata’ala maka selayaknya kita berpegang kepada tuntunan guru-guru kita sehingga rantai yang tersambung kepada guru-guru mereka sampai kepada pemimpin para guru, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menjadi rantai kokoh yang tidak akan dapat diputus.

Hujjatul islam Al Imam Abdullah bin ‘Alawy Al Haddad, beliau berkata : “Walaupun mereka mengecewakan kami, kami tidak akan mengecewakan mereka”, demikian perkataan beliau kepada murid-muridnya dan kepada ummat ini, jika demikian mulia akhlak Al Imam Abdullah bin ‘Alawy Al Haddad maka terlebih lagi sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah digelari oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai Rauuf Rahiim (Yang berlemah lembut dan berkasih sayang) kepada hamba-hamba yang beriman, sebagaimana firman-Nya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ( التوبة : 128 )

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalian sendiri, yang teras berat terasa baginya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, sangat berlemah lembut dan penyayang terhadap orang-orang mukmin”. ( QS : At Taubah : 128 )

4 comments on “Keutamaan Laa ilaaha Illallah, Subhanallah dan Alhamdulillah

  1. Waah.. Bagus postingnyaa.. Silakan mampir ke blog saya, http://www.medinaayasha.wordpress.com

  2. subhanallah🙂

  3. seperti ngedengerin ceramah tapi versi artikel, keren inovasinya gan,

  4. kalau subhanalmalikil quddus apakah itu kalimat pujian….dan apa bla di gunakan sbg rukunkhutbah jumat apakah sah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: