Leave a comment

Curahan Hati Sang Pengagum Almarhum Habib Munzir Almusawa

“​Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan dari segala ciptaan. Segala puji dan barokah bagi Guru dan Rasul kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. ​Saya masih ingat pertama kali saya melihat Habib Munzir al-Musawa. Saat itu sekitar 3 tahun yang lalu. Saya baru saja belajar tentang habaib dari seorang teman, dan menghabiskan waktu saya mencari gambar-gambar Habib Umar dan Habib Kadhim di internet.

pengagum2

Saya ingat saat itulah pertama saya melihat foto Habib Munzir. Senyumnya berseri-seri, sambil memegang tasbih. Dia segera memukau saya sebagai seseorang yang memiliki keindahan dan cinta yang besar. Hatiku sangat ingin bertemu dengannya suatu hari nanti. ​Pada bulan Desember 2012, Habib Umar mengundang saya untuk turut dengannya ke Indonesia.

Sebagai orang Amerika, saya sedang mengalami masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan baru saya di Tarim dan saya fikir Habib (Umar) ingin agar saya melihat lebih banyak lagi ummat dan menghabiskan waktu bersamanya. Saya begitu bersemangat bisa melihat Indonesia dan Jakarta. Saya bertanya-tanya dalam hati jika saja saya dapat bertemu Habib Munzir. Perjalanan ke Indonesia akan menjadi sebuah pengalaman hidup yang berbeda. ​Pada hari kedua saya di Indonesia, saya bangun untuk sholat Subuh di rumah Sayyid Mohsin al-Hamid.

Setelah sholat Subuh, beberapa orang berkumpul disana, diantara mereka adalah Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Jantung saya berdegup kencang karena kegembiraan melihatnya. Saya berlari menghampirinya dan mengucapkan salam dan mengatakan kepadanya betapa gembiranya saya karena akhirnya dapat bertemu beliau. Ia tersenyum lebar dan saat saya membungkuk maju untuk mencium tangannya, ia mengagetkan saya dengan menarik tangan saya dan menciumnya terlebih dahulu. Saya masih ingat harum attar yang dikenakannya yang begitu wangi.

Saya tahu bahwa ia seorang yang istimewa, namun pada saat itu saya tidak tahu seberapa istimewanya beliau…. ​Minggu itu adalah bulan maulid Rasulullah SAW, dan saya begitu terkejut dan kagum melihat lebih dari 100,000-200,000 orang berkumpul demi Rasul kita tercinta Nabi Muhammad SAW. Sementara di tempat kelahiran saya di Amerika, jika berhasil mengumpulkan 50-100 orang saja sudah dianggap maulid besar. Mata saya terbelalak kaget dan jantung saya berdegup kencang. Saat saya duduk di panggung dengan para shuyukh dan habaib, merasa terasing dan sangat canggung, teman saya menghampiri saya dan berkata “Habib ingin kamu berpidato.” Saya bertanya habib yang mana, dia menjawab “dua-duanya.” Saya kira mereka bermaksud pidato akhir minggu nanti mungkin setelah sholat jummah, jadi sambil lalu saya bertanya “buat kapan?” Diluar dugaan dan membuat saya sangat kaget dan ketakutan saat itu adalah jawaban teman saya Khalid, “Sekarang, jadi kamu sebaiknya cepat-cepat memikirkan sesuatu untuk dibicarakan, kamu berdiri 5 menit lagi.” Saya sangat gugup dan panik, saya berucap “Apakah kamu yakin!?” dia kemudian memberi isyarat dengan mengarahkan kepalanya ke barisan depan. Saya membungkuk dan melihat ke barisan depan dan Habib Umar dan Habib Munzir dengan senyuman lebar menghiasi wajah mereka, menganggukkan kepalanya kepada saya. Saat itu saya rasa saya akan jatuh pingsan.

​Saat tiba waktunya saya berdiri dan berpidato, Habib Munzir memperkenalkan saya sebagai Shaykh Khalil dari Amerika. Saya langsung berfikir “Oh tidak, dia fikir saya orang yang mengerti ilmu agama!” Saya sangat malu. Melihat begitu besarnya jumlah orang yang hadir, dan mereka mengira kalau saya seorang shaykh. Saya hanyalah murid yang baru belajar ilmu agama. Di negara asal saya, saya hanyalah seorang guru sekolah untuk mata pelajaran Sejarah Amerika dan Dunia, sama sekali bukan seseorang yang patut diberi gelar shaykh.

Berbicara di hadapan 20 murid berbeda dengan berbicara di hadapan lebih dari 100,000+ orang! Ini adalah sebuah tantangan yang sangat besar, saya berfikir dalam hati… Saya melihat wajah saya di layar monitor besar dan juga wajah-wajah Habib Umar dan Habib Munzir, tersenyum layaknya para ayahanda yang bangga. Saya merasa tenang sejenak, tapi kemudian saya mulai tergagap dan kehilangan kata-kata, saat mencoba menggambarkan apa yang saya rasakan, sensasi yang luar biasa dapat berada di pertemuan besar yang agung dan berkah itu.

Saya ingat saat itu saya berucap bahwa Habib Umar, Habib Ali al-Jifri, dan Habib Kadhim as-Saggaf semuanya telah berkunjung ke Amerika dan Kanada dan saya mengatakan “InshAllah, Anda Habib Munzir, juga akan berkunjung berikutnya.” Reaksi dari lebih dari 100,000 orang yang bersuka cita dengan ajakan saya kepada Habib Munzir untuk berkunjung dan melakukan dakwah di Amerika membuat saya tersenyum kagum karena saya menyaksikan betapa besarnya kecintaan mereka terhadap Habib Munzir. Saya ingat wajah Habib Umar saat itu. Saya juga ingat wajah Habib Munzir. Bagaimana bisa saya melupakan wajah yang sangat mulia itu. ​Kemudian, dalam minggu itu setelah ?Habib Umar pulang, saya masih punya sisa tiga hari tinggal di Jakarta.

Saya sangat bersemangat untuk berbicara dengan Habib Munzir di kantornya. Dia berujar betapa bahagianya dia dengan kedatangan saya dan ingin saya tinggal selama 6 bulan dan belajar di Majelis Rasulullah. Beliau akan menelfon Habib Umar di Tarim untuk meminta izin. Saat Habib Umar terdengar menjawab telfon, Habib Munzir langsung menggeser kursinya, jatuh berlutut dengan kedua tangannya terangkat ke atas dan berkata “Ya Mawlana, bagaimana saya dapat melayani tuan.” Saya terkesima dengan intensitas budi pekerti dan adab dari Habib Munzir. Dia menyebut Habib Umar sebagai ‘Mawlana, yaitu tuan, atau yang mulia. Dia menelfon untuk meminta izin namun yang pertama dia ucapkan adalah bagaimana ia dapat melayani Habib Umar. Saya tidak akan pernah lupa momen itu selama hidup saya. Saya tidak pernah melihat cinta dan bakti yang begitu dalam. Itulah Habib Munzir. Seorang yang memiliki cinta dan pengabdian yang murni. ​Habib Umar mengatakan saya boleh saja tinggal namun saya akan ketinggalan pelajaran bahasa Arab di Darul Mustafa. Habib Munzir langsung berujar jika saya tidak boleh melewatkan pelajaran bahasa Arab dan meminta izin apakah saya boleh kembali lagi di bulan Januari untuk acara mawlid an-nabi. Izin diberikan dan saya akan kembali ke Tarim untuk sekitar sepuluh hari sebelum kembali lagi ke Jakarta. Hari-hari tersebut di Tarim terasa begitu lama karena saya rindu untuk kembali ke Jakarta dan bertemu lagi dengan Habib Munzir, Habib Muhammad al-Junayd dan seluruh keluarga dan team MR yang saya temui di Jakarta.

​Kembali ke Jakarta selama 5 minggu semakin meningkatkan cinta saya terhadap Habib Munzir. Meski saya tidak melihatnya setiap hari, saya merasakan kehadirannya kemanapun saya pergi. Saya melihat banyak billboard dan umbul-umbul Majelis Rasulullah, saya melihat wajah beliau dimanapun saya berada. Saat saya bepergian, saya melihat wajahnya dalam hati dan fikiran saya. Ia selalu bersama saya kemanapun saya pergi. Saat saya bersamanya, beliau selalu meminta saya untuk duduk di sebelahnya. Saya sangat malu. Inilah saya, seorang Amerika yang masuk Islam, 32 tahun, bukan orang alim, bukan seorang shaykh, namun Habib Munzir memaksa saya untuk duduk disampingnya, dan juga untuk berbicara di maulid.

Saya masih ingat saat saya melepaskan imamah (sorban) saya suatu hari dan Habib Munzir bertanya mengapa saya melakukannya, dan saya sampaikan padanya jika saya merasa tidak pantas dan tidak berhak mengenakannya, karena bukanlah seorang shaykh dan hanyalah seorang murid yang baru belajar. Beliau berkata bahwa saya harus mengenakannya, itu adalah sunnah dan saat orang Indonesia melihat seorang warga negara asing, apalagi orang Amerika, mengenakan imamah, itu akan mengingatkan orang untuk beribadah seperti halnya Nabi Muhammad SAW dan untuk mengikuti cara hidupnya, dan bukannya mengikuti cara duniawi.

Saya kemudian mengenakannya kembali selama perjalanan saya disana, dan melakukannya dengan kebanggaan telah mengikuti sunnah Rasul SAW tercinta dan saya bepergian ke pulau Sulawesi dengan Habib Muhammad al-Junayd dan Sayyid Hilmi al-Kaf untuk berdakwah. Saya merindukan Habib Munzir dan ingin kembali ke Jakarta, namun beliau menginginkan agar saya bertemu dengan masyarakat disana mengajak mereka kembali ke Islam. Perjalanan dakwah tersebut unik dan mengesankan dalam segala hal. ​Akhirnya, saat tiba waktunya saya harus kembali ke Tarim, saya bertemu lagi dengan beliau di kantornya. Saya masih ingat kesedihan yang terlihat di wajahnya. Inilah seorang lelaki, cucu keturunan langsung dari Rasulullah SAW, yang memikul tidak hanya Jakarta, namun beban seluruh Indonesia di pundaknya. Meski begitu banyak organisasi Islam dan habaib di Indonesia, tidak ada satupun yang memiliki dampak dan pengaruh yang begitu besar seperti Habib Munzir, terutama bagi kalangan anak muda. Terlihat dengan begitu banyaknya anak muda, pria dan wanita, anak-anak laki dan perempuan berkumpul dibawah kibaran bendera Majelis Rasulullah, dengan senyuman dan cinta di wajah mereka. Para pemuda yang dulunya frustasi dan tidak sadar kini kembali memanggil nama Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Kemanapun Habib Munzir pergi, terdapat senyuman dan kebahagiaan di sana.

Itulah yang selalu dibawa Habib Munzir bersamanya: senyuman dan cinta. ​Mengucapkan selamat tinggal adalah hal yang sangat sulit bagi saya. Saya ingat bagaimana beliau selalu berusaha mencium tangan saya saat saya mencium tangannya kapanpun kami bertemu. Saya ingat pelukannya. saya ingat kapanpun saya berbicara, beliau selalu memandang saya dengan kebahagiaan, pandangan seorang ayah yang bangga akan puteranya. Saya memperhatikan bagaimana perilakunya terhadap orang lain. Sangat lembut, sangat penuh perhatian. Pelukan terakhir itu lebih lama dan kuat. Saya ingat bahwa mata kami berdua berkaca-kaca, saya ingat tidak ingin melepaskan pelukan beliau. Saya memandang Habib Munzir dengan penuh cinta dan kekaguman. Meski beliau hanya 8 tahun lebih tua dari saya, saya melihatnya sebagai figur seorang ayah. Begitulah pembawaan diri beliau, jauh lebih tua, dengan segala kebijakan dan kecerdasannya. ​Pengabdian umat terhadapnya sangatlah erat dan pribadi. Kemanapun Habib pergi, orang-orang menghargai dan menghormati beliau.

Cara ia mengajak dan membawa emosi umat yang hadir, kekuatan doanya saat mereka menyerukan nama Allah. Saya belum pernah merasakan kekuatan yang begitu positif dan mengagumkan. Itu semua memberikan harapan bagi ummat. Figur seperti Habib Munzir adalah figur yang didambakan Ummat. Penduduk Indonesia memiliki ikatan unik dan pribadi pada Habaib. Mereka mencintai habaib dengan cara tersendiri yang tidak dilakukan orang lain dimanapun di dunia, namun Habib Munzir adalah Habib mereka.

Putera bangsa mereka, yang menghidupkan kembali Islam di Indonesia. Berada diantara mereka, saya merasakan pengabdian itu terhadap beliau. Dalam waktu yang begitu singkat itulah, cinta saya terhadap Habib Munzir sudah sebesar ummatnya di Jakarta dan Indonesia. Saya merasa seolah-olah beliau adalah “Habib saya”. ​Kembali ke Tarim saya merasa seakan tersesat dan kehilangan. Saya telah menghabiskan tahun pertama tanpa mengikuti kelas bahasa Arab karena tingkat pengetahuan bahasa Arab saya masih terlalu rendah untuk bisa mengikuti sebuah kelas. Saya memiliki seorang pembimbing yang mempersiapkan saya untuk tahun ajaran berikutnya. namun saya tidak memiliki semangat, tidak memiliki ambisi. Saya merasa begitu kehilangan dan putus asa. Tahun ajaran baru telah dimulai beberapa minggu yang lalu, dan saya merasa terkucilkan. Semangat saya yang asalnya sudah sangat kecil menjadi tidak ada sama sekali. Saya telah menyerah dan tidak ada harapan untuk belajar. Aspirasi spiritual saya telah hilang. Namun, saya selalu mengingat Habib Munzir dalam setiap doa-doa saya. Setiap malam sebelum saya pergi tidur, saya berdoa untuk Habib Munzir, untuk kesuksesan dan agar segera sembuh dari sakitnya. ​Saat saya diberi tahu bahwa Habib Munzir meninggal, saya tidak mau percaya akan hal itu, sama seperti Hazrat Umar (RA) saat mendengar berita meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

Saya segera mengirim pesan sms pada keluarga Habib Munzir, yaitu kakaknya Habib Ramzy dan iparnya Anwar, dan mereka langsung menelfon balik. Saat saya mendengar mereka menangis di telfon, saya baru percaya bahwa itu benar adanya. Hati saya seakan hancur berkeping-keping. Dunia seakan runtuh di sekitar saya. Perasaan yang sama saat saya mendengar ayah saya meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu saat saya berusia 17 tahun. Saya berlari keluar pesantren Dar al mustafa dan jatuh terduduk menghadap dinding sambil menangis sejadi-jadinya. Saya tidak tahu apa yang difikirkan atau dirasakan. Habib Munzir telah tiada. ​Semakin larut hari itu, ?tangisan saya semakin tak terbendung dan saya merasa begitu kehilangan. Saya tidak dapat masuk ke kelas, saya tidak dapat makan atau minum. Saya menangis dalam sholat. Saya tidak dapat melalui semenitpun tanpa merasakan kehilangan beliau yang menguasai hati dan fikiran saya. Para sahabat di pesantren berusaha menenangkan saya namun tidak ada yang dapat menghentikan airmata dan kepedihan ini.

​Saya menulis artikel ini sehari setelah Habib Munzir (RA) meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Allah SWT. Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, hanya beberapa minggu yang lalu tahun ajaran baru telah dimulai dan saya merasa kosong dengan tanpa ambisi untuk belajar atau menimba ilmu. Namun saya menulis surat hari ini dengan semangat baru untuk belajar. Ini karena meninggalnya Habib Munzir yang membuat himma (aspirasi spiritual) saya kembali pada saya, semangat dan ambisi saya telah kembali.

Dan saya yakin Habib Munzir tengah mengawasi saya dan saya ingin membuatnya bahagia. Saya berniat pada waktu dekat nanti dapat memenuhi harapannya agar saya belajar di Majelis Rasulullah. ​?Habib Munzir adalah saudara saya dalam Islam, dan sesama murid dari Habib Umar. Beliau adalah shaykh saya, dan dia adalah sahabat saya. Saat tengah menghadapi berita sedih kematian beliau kemarin, seorang teman saya menyampaikan kepada saya sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ibu kita Aisyah (RA) mengenai jiwa tertentu yang terhubung erat sebelum penciptaan. Aku merasakan kenyamanan besar dalam mempelajari hadits ini. Meski saya tinggal di Jakarta hanya selama enam minggu, saya merasa seakan-akan saya telah dibesarkan dibawah tatapan penuh kasih Habib Munzir. ​Habib Munzir memiliki senyum yang lembut dan berseri-seri, seakan menerangi ruangan manapun yang ia masuki. Suaranya yang berat dan berwibawa begitu kuat dan siapapun yang mendengarnya berbicara atau melantunkan du’a seakan terpikat olehnya. Beliau selalu berlemah lembut dan baik hati pada orang lain.

Dan segala hal yang berhubungan dengan kakek buyutnya Rasulullah SAW, ia tidak pernah ragu-ragu untuk menyampaikan pesan dan hadits beliau. Segala hal yang dilakukan Habib Munzir adalah semata bagi Allah dan Rasul Nya SAW dan para shaykh kita. Di setiap Maulidnya, Habib Munzir selalu fokus dan begitu mudah terharu. Ia merasakan dan melihat Rasulullah SAW di setiap maulid. Penduduk Jakarta mencintainya. Mereka mengaguminya, mereka rela mati untuknya. Saya pun merasakan kekaguman luar biasa dan kecintaan mendalam terhadap beliau, dan saya siap mati tanpa ragu-ragu untuknya. Ingatan saya selalu kembali pada pikiran bagaimana jika saya telah belajar di sana selama enam bulan dan bukannya kembali ke Tarim. Namun Allah adalah Maha Penentu dan sebaik-baiknya perencana. ​Kita semua telah banyak membaca kisah tentang orang-orang yang menghabiskan hanya sedikit waktu dengan seorang shaykh, namun hati mereka terbuka dan mereka merasakan perubahan dalam dirinya.

Saya selalu menganggap kisah-kisah semacam itu hal yang mustahil di zaman sekarang ini. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Habib Munzir al-Musawa barulah saya menyadari betapa momen seperti itu benar-benar ada dan terjadi. Hanya sesaat, cukup sebentar saja, tatapan dari salah seorang awliya dapat merubah segalanya. Tatapan ini dapat terjadi dalam kehidupan mereka, ataupun di kehidupan akhirat kelak. Saya merasakan tatapan Habib Munzir kepada saya dan saya merasakannya sekarang dan semakin dalam dan sering justru setelah beliau meninggal. ​Saya tidak pernah berfikir bahwa saya dapat mengagumi dan mencintai seseorang seperti saya mencintai Habib Umar bin Hafiz. Saya memandang Habib Umar sebagai ayah yang mengadopsi saya. Di saat saya memandang Habib Umar, saya merasa seperti Hazrat Zayd (RA).

Saya tidak pernah berfikir kalau seseorang bisa memiliki pengaruh yang sebegitu besar dalam hidup saya seperti pengaruh Habib Umar. Namun saat bertemu dengan Habib Munzir, seluruh dunia saya berubah. Tidak ada seorangpun yang memiliki cinta dan pengabdian terhadap shaykh mereka seperti yang ditunjukkan Habib Munzir kepada Habib Umar. Saya belum pernah melihat kepercayaan dan kepatuhan seperti itu. Seakan-akan saya melihat kisah Rumi dan Shams, mungkin begitulah gambaran kekuatan dan cinta antara sang Guru Mulia Habib Umar dan muridnya Habib Munzir. Terdapat ikatan khusus yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun. Tidak perlu dipertanyakan lagi, Habib Munzir adalah salah satu yang paling dicintai oleh Habib Umar, dan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. ​Sejak beliau meninggal, begitu banyak yang datang menghampiri saya bertanya tentang Habib Munzir. Seperti apa orangnya, kisah-kisah tentangnya, dan berbagai kenangan lainnya. Baru sehari beliau meninggalkan kita, namun rasanya sudah bertahun-tahun lamanya. Saya merasa beruntung dan diberkati telah mengenalnya.

Meski hanya dalam waktu yang singkat saya bersama beliau, saya merasa jauh lebih terhubung dengannya dibandingkan yang lain. Saya mengatakan ini semua tanpa keangkuhan dan kesombongan. Allah SWT memberkahi saya sehingga dapat bertemu dengan Habib Munzir. Saya tahu bahwa jiwa saya terhubung dengannya. Itulah hadiah paling mulia yang pernah saya terima dalam hidup saya. Habib Umar dan Habib Munzir sama-sama mulia bagi saya, dan suatu saat nanti saya berharap dapat berjalan dalam bayangan mereka. InshAllah Rahman.

​Meninggalnya Habib telah menyelamatkan tidak hanya iman dan kepercayaan saya terhadap Allah dan Islam, ia telah menyelamatkan hidup saya. Saya berdoa semoga Habib Munzir mendapatkan surga firdaus dan dekat dengan kakeknya Rasulullah SAW. Saya berdoa bagi kita semua yang berkabung atas meninggalnya seseorang yang begitu kita cintai dan sayangi. Saya berdoa bagi anak-anak almarhum yang merupakan perwujudan dari kesejukan pandangan ayah dan ibunya. Saya berdoa semoga keluarganya dan mereka yang mencintainya meneruskan warisan, cita-cita dan perjuangan beliau. Saya berharap dan berdoa. ​Saya berdoa semoga saya diberikan tawwasul Habib Munzir di yaumil qiyamat nanti. Saya berdoa dan berharap, agar diberikan niat dan iman yang kuat. Karena Anda, Ya Mawlana, Saya berdoa dan berharap…. ” ~ Syekh Khalil, Tarim

Leave a comment

Biografi AlHabib Munzir bin Fuad Al Musawwa

Ayah saya bernama Fuad Abdurrahman Almusawa, yang lahir di Palembang, Sumatera selatan, dibesarkan di Makkah Al mukarramah, dan kemudian mengambil gelar sarjana di Newyork University, di bidang Jurnalistik, yang kemudian kembali ke Indonesia dan berkecimpung di bidang jurnalis, sebagai wartawan luar negeri, di harian Berita Yudha, yang kemudian di harian Berita Buana, beliau menjadi wartawan luar negeri selama kurang lebih empat puluh tahun, pada tahun 1996 beliau wafat dan dimakamkan di Cipanas cianjur jawa barat.”

6

Nama saya Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa, saya dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat, pada hari jum’at 23 februari 1973, bertepatan 19 Muharram 1393 H.

Setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, saya mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bhs.Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur, lalu memperdalam lagi Ilmu Syariah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, kemudian saya meneruskan untuk lebih mendalami Syari’ah ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman, selama empat tahun, disana saya mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur’an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.

saya adalah seorang anak yg sangat dimanja oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yg lain, namun dimasa baligh, justru saya yg putus sekolah, semua kakak saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya, karena saya malas sekolah, saya lebih senang hadir majelis maulid Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin Hud Alalttas, dan Majelis taklim kamis sore di empang bogor, masa itu yg mengajar adalah Al Marhum Al Allamah Alhabib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dg kajian Fathul Baari.

sisa hari hari saya adalah bershalawat 1000 siang 1000 malam, zikir beribu kali, dan puasa nabi daud as, dan shalat malam berjam jam, saya pengangguran, dan sangat membuat ayah bunda malu.

ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal di Makkah, guru beliau adalah Almarhum Al Allamah Alhabib Alwi Al Malikiy, ayah dari Al Marhum Al Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi Al Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika serikat, dan mengambil gelar sarjana di New york university.

almarhum ayah sangat malu, beliau mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata pada saya : kau ini mau jadi apa?, jika mau agama maka belajarlah dan tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama, aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa apa dari kebanggaan orang yg sangat menyanjung negeri barat, walau aku sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia kecuali dg kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku menghindari itu.

maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan di cipanas, cianjur, Puncak. Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri dari ibukota, membesarkan anak anaknya, mengajari anak2nya mengaji, ratib, dan shalat berjamaah.

namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan : dunia tidak akhiratpun tidak.

namun saya sangat mencintai Rasul saw, menangis merindukan Rasul saw, dan sering dikunjungi Rasul saw dalam mimpi, Rasul saw selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau saw, dan berkata wahai Rasulullah saw aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa dg mu.., ataukan matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini,,, Rasul saw menepuk bahu saya dan berkata :
munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa dgn ku..,
maka saya terbangun..

akhirnya karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil didepan rumah berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yg baik baik, untuk biaya nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.

setiap malam saya jarang tidur, duduk termenung dikursi penerimaan tamu yg cuma meja kecil dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu, sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan shalat malam demikian malam malam saya lewati,

siang hari saya puasa nabi daud as, dan terus dilanda sakit asma yg parah, maka itu semakin membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya : kalau kata orang, jika banyak anak, mesti ada satu yg gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?.

saya terus menjadi pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar, membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.

sampai semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok, maka saya pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit duri jakarta selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.

ayah makin malu, bunda makin sedih, lalu saya prifat saja kursus bahasa arab di kursus bahasa arab assalafi, pimpinan Almarhum Hb Bagir Alattas, ayahanda dari hb Hud alattas yg kini sering hadir di majelis kita di almunawar.

saya harus pulang pergi jakarta cipanas yg saat itu ditempuh dalam 2-3 jam, dg ongkos sendiri, demikian setiap dua kali seminggu, ongkos itu ya dari losmen tsb.

saya selalu hadir maulid di almarhum Al Arif Billah Alhabib Umar bin Hud alattas yg saat itu di cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan hujanan pula.

sering saya datang ke maulid beliau malam jumat dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu dirumah beliau, karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yg kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan, maka saya duduk dil;uar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang penjaga.

saya sering pula ziarah ke luar batang, makam Al Habib husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci, karena datang langsung dari cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai Allah, aku datang sebagai tamu seorang wali Mu, tak beradab jika aku masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar, kalau aku beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang..,

maka saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yg termurah saat itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil membaca yaasin utk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan saya yg penuh ketidak tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata : kakak2mu semua sukses, ayahmu lulusan makkah dan pula new york university, koq anaknya centeng losmen..

maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaranpun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.

walhasil dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Allah, aku tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yg shalih disisi Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak cukup ongkos pulang..,

lalu dalam saya merenung, datanglah rombongan teman teman saya yg pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf dg satu mobil, mereka senang jumpa saya, sayapun ditraktir makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali Allah..

lalu saya ditanya dg siapa dan mau kemana, saya katakan saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di pasar sawo, kb Nanas Jaksel, mereka berkata : ayo bareng saja, kita antar sampai kebon nanas, maka sayapun semakin bersyukur pada Allah, karena memang ongkos saya tak akan cukup jika pulang ke cipanas, saya sampai larut malam di kediaman bibi dari Ibu saya, di ps sawo kebon nanas, lalu esoknya saya diberi uang cukup untuk pulang, sayapun pulang ke cipanas..

tak lama saya berdoa, wahai Allah, pertemukan saya dg guru dari orang yg paling dicintai Rasul saw, maka tak lama saya masuk pesantren Al Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur, dan setiap saat mahal qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul saw, dan dipertemukan dg guru yg paling dicintai Rasul saw, dalam beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pd th 1994.

selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat beliau sudah naik ke mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia memanggil Hb Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut yaman untuk belajar dan menjadi murid beliau,

Guru saya hb Nagib bin syeikh abubakar mengatakan saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum tahu apa apa, mungkin beliau salah pilih..?, maka guru mulia menunjuk saya, itu.. anak muda yg pakai peci hijau itu..!, itu yg saya inginkan.., maka Guru saya hb Nagib memanggil saya utk jumpa beliau, lalu guru mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka : siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak faham, maka guru saya hb Nagib menjawab : kau ditanya siapa namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum..

keesokan harinya saya jumpa lagi dg guru mulia di kediaman Almarhum Hb bagir Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid guru mulia, maka guru mulia mengangguk angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu guru mulia melihat saya dikejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum hb umar maula khela : itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yg pakai peci hijau itu..!,

guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur guru saya hb Nagib bin syekh abubakar, seraya berkata : wahai munzir, kau harus siap siap dan bersungguh sungguh, kau sudah diminta berangkat, dan kau tak akan berangkat sebelum siap..

dua bulan kemudian datanglah Almarhum Alhabib Umar maula khela ke pesantren, dan menanyakan saya, alm hb umar maulakhela berkata pada hb nagib : mana itu munzir anaknya hb Fuad almusawa?, dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi untuk memberangkatkannya, maka hb nagib berkata saya belum siap, namun alm hb umar maulakhela dg tegas menjawab : saya tidak mau tahu, namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL Habib Umar bin Hafidh, ia harus berangkat dlm dua minggu ini bersama rombongan pertama..

saya persiapkan pasport dll, namun ayah saya keberatan, ia berkata : kau sakit sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena banyak teman disana, namun ke hadramaut itu ayah tak ada kenalan, disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yg menjaminmu..?,

saya pun datang mengadu pd Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin hud Alattas, beliau sudah sangat sepuh, dan beliau berkata : katakan pada ayahmu, saya yg menjaminmu, berangkatlah..

saya katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara, ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun saya dg berat tetap melangkah ke mobil travel yg akan saya naiki, namun saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dg tangis melihat keberangkatan saya…, beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg airmata sedih..

saya sampai di tarim hadramaut yaman dikediaman guru mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya dan beliau memandang saya dan tersenyum indah,

tak lama kemudian terjadi perang yaman utara dan yaman selatan, kami di yaman selatan, pasokan makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan kaki kemana mana menempuh jalan 3-4km untuk taklim karena biasanya dg mobil mobil milik guru mulia namun dimasa perang pasokan bensin sangat minim

suatu hari saya dilirik oleh guru mulia dan berkata : Namamu Munzir.. (munzir = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu beliau berkata lagi : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…!

maka saya tercenung.., dan terngiang ngiang ucapan beliau : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak…?, saya akan punya jamaah?, saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak punya uang untuk beli sabun cuci..

saya mau mencucikan baju teman saya dg upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik : cucianmu tidak bersih…!, orang lain saja yg mencuci baju ini..

maka saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci, air sabun cuci yg mengalir itulah yg saya pakai mencuci baju saya

hari demi hari guru mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri, saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada guru mulia membantu beliau, dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.

2 tahun di yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata : kapan kau pulang wahai anakku..?, aku rindu..?
saya jawab : dua tahun lagi insya Allah ayah..
ayah menjawab dg sedih ditelepon.. duh.. masih lama sekali.., telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat..
saya menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu adalah terakhir kali jumpa dg beliau.. dan beliau buang muka saat saya mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan airmata.., duhai,, kalau saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau,., rahimahullah..[/i]

tak lama saya kembali ke indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah sendiri di cipanas, namun kurang berkembang, maka say mulai dakwah di jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah kerumah murid sekaligus teman saya, majelis malam selasa saat itu masih berpindah pindah dari rumah kerumah, mereka murid2 yg lebih tua dari saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya mereka yg cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib, ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka puas, baru mulai maulid dhiya’ullami.., jamaah makin banyak, mulai tak cukup dirumah rumah, maka pindah pindah dari musholla ke musholla,. jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah pindah dari masjid ke masjid,

lalu saya membuka majelis dihari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid almunawar, saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata : jamaah akan semakin banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini, lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.. jamaah mengaminkan..

mulailah dibutuhkan kop surat, untuk undangan dlsb, maka majelis belum diberi nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan majelis hb munzir saja, saya menolak, ya sudah, majelis rasulullah saw saja,

kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di Jabodetabek, jawa barat, banten, jawa tengah, jawa timur, bali, mataram, kalimantan, sulawesi, papua, singapura, malaysia, bahkan sampai ke Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul badr kita di monas, yaitu Profesor dari Jepang yg menjadi dosen disana, dia datang keindonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga karena sangat ingin jumpa dg saya, karena ia pengunjung setia web ini, khususnya yg versi english..

sungguh agung anugerah Allah swt pada orang yg mencintai Rasulullah saw, yg merindukan Rasulullah saw…

itulah awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia saya kini 38 tahun jika dg perhitungan hijriah, dan 37 th jika dg perhitungan masehi, saya lahir pd Jumat pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23 februari 1973 M.

perjanjian Jumpa dg Rasul saw adalah sblm usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1432 H,

mungkin sblm sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dg Rasul saw, namun apakah Allah swt akan menambah usia pendosa ini..?

Wallahu a’lam

Adapun guru-guru beliau antara lain:

-Habib Umar bin Hud Al-Athas (cipayung)
-Habib Aqil bin Ahmad Alaydarus
-Habib Umar bin Abdurahman Assegaf -Habib Hud Bagir Al-Athas
-Al Ustadz Al-Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar (Pesantren Al-Khairat)
-Al Imam Al Allamah Al Arifbillah Al Hafidh Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim (Rubath Darul Mustafa,Hadramaut)
juga sering hadir di majelisnya Al-Allamah Al-Arifbillah Al-Habib Salim Asy-Syatiri (Rubath Tarim).

Dan yang paling berpengaruh didalam membentuk kepribadian beliau adalah Guru mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.

Salah satu sanad Guru beliau adalah:

Al-Habib Munzir bin fuad Al-Musawa berguru kepada Guru Mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Musnid Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdullah Assyatiri,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (simtuddurar),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur (shohibulfatawa),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Husen bin Thohir,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Umar bin Seggaf Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Hamid bin Umar Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Habib Al-Hafizh Ahmad bin Zein Al-Habsyi,

Dan beliau berguru kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (shohiburratib),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Husein bin Abubakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Abubakar bin Salim (fakhrulwujud),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahabuddin,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman bin Ali (Ainulmukasyifiin),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Abubakar (assakran),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Muhammad Mauladdawilah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Alwi Al-ghayur,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Imam faqihilmuqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Muhammad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Ubaidillah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Arrumiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far Asshadiq,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Zainal Abidin Assajjad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Husein ra,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Ali bin Abi Thalib ra,

Dan beliau berguru kepada Semulia-mulia Guru, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, maka sebaik-baik bimbingan guru adalah bimbingan Rasulullah SAW.

Sanad guru beliau sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula nasabnya.

Silsilah/nasab habib munzir :

Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Sayyidatina Fathimah Azahra Putri Rasul saw.

Demikian biografi singkat ini di buat.Mohon maaf apabila ada kesalahan.

 

Leave a comment

Habib Munzir Al-Musawa dalam Kenangan Sang Putra

Tabloid nova “Kibarkanlah Bendera Tanpa Tiang” Kepergian pendiri Majelis Rasulullah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa (40) pekan lalu tak hanya membuat keluarganya merasa kehilangan tapi juga ribuan umat yang kerap mendengarkan ceramahnya. Berikut curahan hati putra kedua sang habib, mewakili keluarganya. Minggu (15/9) lalu, lautan manusia pengikut Habib Munzir al Musawa tampak mengiringi kepergian sang ulama, dengan doa dan tangis ke tempat peristirahatan terakhir sang habib di TPU Habib Kuncung, Kalibata, Jakarta Selatan. Tak hanya ribuan pengikutnya yang hadir mengirim doa untuk sang habib, Presiden SBY pun menyempatkan diri menyambangi rumah duka dan menyampaikan rasa belasungkawa yang dalam kepada keluarga almarhum.

1382099_10202721700862730_1215190877_n

Sayangnya, tampaknya banyak yang tak mengetahui bahwa habib yang amat dikenal dermawan ini seakan sudah mempersiapkan kepergian abadinya. Habib Munzir bahkan pernah mengungkapkan mimpinya dan menceritakan kepada jemaahnya, ia akan wafat pada usia 40 tahun. Dan, setahun terakhir ini ia juga telah mempersiapkan Muhammad Al- Musawa (12), putra keduanya, meneruskan jejak dan perjuangannya untuk terus membawa bendera Majelis Rasulullah agar tetap berkibar dan semakin besar.

Ikhlas & Kuat Kedua putra Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, yaitu Muhammad Al- Munsawa (12) dan Hasan Al-Munsawa (10), saat ditemui di rumah duka, Kompleks Liga Mas, Pancoran, Perdatam, Jakarta Selatan, bercerita, masih tak percaya sang ayah telah tiada, meninggalkan mereka. “Abi (ayah) memang sakit sejak lama, sering masuk dan keluar rumah sakit. Jadi hari Minggu itu rumah kami sedang ramai karena ada pengajian Majelis An Nisa Rasulullah. Saat itu saya dengar Umi bertanya ke asisten Abi, “Apakah Habib sedang pergi ke luar?” Tapi mobilnya ada dan sandalnya pun ada,“ tutur Muhammad.

Namun ketika pintu kamar mandi diketuk, lanjut Muhammad, tak ada sahutan. “Akhirnya pintu didobrak dan Abi sudah tak sadarkan diri. Semua orang di rumah ini enggak punya feeling apa –apa, karena Abi memang pernah begitu juga sebelumnya dan langsung dibawa ke RS, tapi bisa pulang lagi ke rumah. Nah, yang hari Minggu itu Abi langsung dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saya, Hasan, dan Umi menyusul. Abi langsung masuk ruang ICU. Setelah kami menunggu dua jam, pihak RS menyatakan Abi sudah meninggal dunia,” papar Muhammad tegar. Ketika mendengar kabar itu, kata Muhammad, adiknya Hasan sempat menangis. Namun ia bersama Uminya memberikan pengertian dan menguatkan sang adik. “Saya mengatakan kepadanya, seberapa banyak air mata yang kau keluarkan tidak akan bisa menghidupkan lagi Abi,” ujarnya bijaksana. Menurut Muhammad, uminya juga terus menguatkan dan meminta kedua putranya untuk berlapang dada dan mendoakan abinya, sebab memang sudah waktunya ia pergi. “Semua harus ikhlas dan kuat, terutama ketika Abi dimakamkan. Alhamdulillah sayalah yang mengazankan beliau,” sahut Muhammad.

Sayangnya, kata Muhammad, kakak tertuanya Fatimah Al-Munsawa tak bisa menghadiri pemakaman ayahnya lantaran masih melanjutkan studi di Darulmustafa Hadramaut, Yaman. “Ya, kakak saya masih belajar di sana tapi dia juga kuat dan sempat berkirim SMS ke sekretaris Abi. Kata Kakak di SMS-nya, ‘Aku memang tak bisa hidup tanpa abi, tapi aku akan bertahan untuknya.’,” tutur Muhammad menirukan pesan yang dikirim sang kakak dari negeri jauh dengan nada pelan. Kakak beradik yang masih berusia belia ini pun lantas mengungkapkan, hingga akhir pekan lalu masih merasa bahwa ayahnya masih berada di dalam rumah dan sedang beristirahat. “Biasanya kalau ada mobil beliau di rumah, semua orang enggak berisik karena Abi biasanya sedang istirahat. Ya, sampai sekarang rasanya masih seperti ada saja,”sahut Muhammad sambil memandang adiknya, Hasan. Selalu Berkata Lembut Bagi Muhammad dan Hasan, sang ayah di mata mereka adalah sosok ayah yang banyak memberikan banyak teladan. “Kalau bicara, Abi susah dibedakan kapan serius dan bercanda.

Tapi bercandanya selalu bermanfaat dan sudah pasti menceritakan kisah sahabat Rasul SAW. Abi juga pernah marah, tapi hatinya murah, lembut. Kalau marah pada detik itu, maka pada detik itu juga Abi memaafkan,” papar Muhammad yang selalu diangguki oleh sang adik. Hasan lantas mengaku ia segan dan takut kepada ayahnya lantaran tahu, sang ayah tak pernah menegurnya dengan bahasa yang keras. “Abi, kalau menegur enggak seperti orang-orang lain. Bicaranya santai tapi kena di hati.

Saya sering diberi pesan untuk enggak malas belajar. Setiap selesai salat subuh Abi selalu mengecek kamar untuk melihat apakah saya belajar atau tidak,” ucap Hasan dengan wajah polos. Muhammad menambahkan, ia pun pernah ditegur ayahnya lantaran terlihat mengantuk saat saatmenjalankan salat subuh. “Soalnya, ketika itu saya tidurnya kemalaman. Jadi pas waktunya salat subuh dan doa qunut, saya kurang keras menjawab “Amin”. Akhirnya, selesai salat Abi menegur saya. Besoknya saya enggak berani tidur malam-malam lagi,” sahutnya. Kedua anak lelaki Habib Munzir Al-Musawa ini pun mengakui, mereka akan sangat merindukan sosok sang ayah tercinta di masa-masa mendatang. “Kebiasaan kami, kan, selalu bersama Abi. Terutama setiap salat subuh kami selalu berjamaah dilanjutkan dengan mendengarkan Abi membaca kitab,” jelas Muhammad. Ikuti Jejak Abi Yang paling terkenang oleh Muhammad, sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin mengikuti jejak sang ayah melakukan tausiyah dan berjuang di jalan Allah. “Sejak kecil saya, kan, sudah sering dengar ceramahnya Abi. Abi itu semangatnya tinggi, meskipun sakit enggak pernah jadi halangan Abi untuk berceramah. Pernah Abi ceramah pakai kursi roda, pakai selang oksigen, atau bahkan datang ke hadapan majelis menggunakan kasur dari rumah sakit.

Tapi Abi tetap saja ceramah,” tutur Muhammad bangga. Setahun yang lalu, menurut Muhammad, ayahnya mulai mengizinkannya untuk mengisi salah satu kegiatan tausiyah yang dihadiri oleh 20 ribu jemaah untuk menggantikan sang ayah yang kala itu tengah berada di Rumah Sakit. “Sejak kecil saya memang sudah mempelajari apa yang Abi lakukan, dibantu Umi. Ketika itu Abi memang sedang sakit, sehingga saya yang diminta untuk mengisi tausiyah. Alhamdulillah sejak itu, mulai setahun belakangan ini saya mulai rajin bertausiyah,” ungkapnya. Pesan yang kerap diucapkan sang ayah semasa hidupnya kepada Muhammad adalah meminta agar majelis yang didirikannya tidak berhenti, meski beliau sudah tiada. “Pesan yang paling sering beliau katakan adalah, “Kibarkanlah bendera tanpa tiang.” Nah, setelah beliau enggak ada, saya jadi ingat lagi pesan itu. Ternyata inilah maksud dan keinginan beliau. Insya allah semua bisa terlaksana,” harap Muhammad. Diakui oleh Muhammad, ia juga termotivasi oleh sang ayah yang sangat mengidolakan Nabi Muhammad SAW dan mencontoh semua teladanya. “Cara Abi duduk, bicara, makan, semua itu teladan dari Rasul.

Jadi saya dan Hasan ingin bisa seperti Abi,” sahutnya. Sebagai pemberi tausiyah, Muhammad tentu juga berkeinginan mempelajari lebih jauh mengenai hadis. “Saya ingat salah satu hadis yang sering Abi ucapkan. Begini hadistnya, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang suka berselisih,” katanya lantang. Selama bertausiyah atau berceramah, Muhammad merasa, gaya berceramahnya hampir sama dengan ayahnya. Ia tak suka menyampaikan ceramah dengan bahasa yang berat, melainkan menggunakan bahasa yang ringan dan mudah dicerna jemaah. “Abi, kalau sedang menjelaskan sesuatu pasti mudah sekali dicerna. Jadi saya akan mencontoh cara Abi saja. Saya masih terus belajar, Hasan juga belajar. Yang pasti, kami semua ingin meneruskan jejak Abi,” tandasnya. Muhammad sudah sering mengisi tausiyah menggantikan tugas sang Abi yang telah tiada.

Di hari ketika sang habib tiada, para pengikut dan jemaahnya mengantarkan Habib Munzir sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Muhammad (kiri) dan Hasan (kanan) sepakat untuk selalu kompak dalam meneruskan dan membesarkan Majelis Rasulullah pimpinan sang Abi. “Kami pasti akan sangat merindukan Abi dan bercandaan Abi yang justru malah sering terdengar serius,” kata Muhammad mewakili adiknya, Hasan. Fenomena banyaknya pemuka agama berusia muda namun memiliki ribuan pengikut bahkan fanatik, dicermati oleh pakar sosiolog dari UIN Syarif Hidayatullah, Musni Umar. Menurut Musni, kini masyarakat tengah mengalami banyak perubahan, khususnya krisis penokohan dan krisis identitas. “Masyarakat sesungguhnya kehilangan idola dan panutan, jadi akhirnya ketika muncul tokoh yang muda-muda, independen, energik dan mendapatkan sorotan dari media, menjadikan mereka perhatian yang lebih.

Apalagi masyarakat cenderung menganggap, yang muda-muda ini relatif tak punya banyak kesalahan daripada tokoh tua yang lama sudah mereka kenal.” Itu sebabnya, lanjut Musni, banyak pengikut yang langsung percaya dan jadi tidak irasional terhadap penokohan sang idola. Sebaliknya, yang harus ditekankan oleh para pemuka agama berusia muda yang sudah terlanjur mendapatkan kepercayaan dari masyarakat ini, lanjut Musni, tak bisa hanya mengandalkan karisma dalam diri saja. “Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin kritis. Maka kelayakan dari seorang tokoh juga akan menjadi penting. Sehingga tak hanya soal penokohan saja agar kepercayaan masyarakat tidak hilang,” jelasnya.

Musni mencontohkan nama besar Buya Hamka yang tak lekang oleh waktu dan masih dikenang hingga kini. Padahal, lanjutnya, pada masanya Buya Hamka pun belajar soal agama secara otodidak dibarengi dengan upaya untuk terus menunjukkan kualitas dan karismanya, sehingga tetap bertahta di hati masyarakat. “Seperti halnya apabila anak Habib Munzir Al-Musawa didapuk untuk meneruskan perjuangan ayahnya, sama seperti anak ustaz seribu umat KH Zainudin MZ, maka mereka harus terus belajar dan tak hanya bisa mengandalkan nama besar sang ayah saja, agar kepercayaan masyarakat dan pengikutnya tidak luntur,” tegasnya. Di masa sekarang , imbuh Musni, masyarakat sudah lebih kritis. Sehingga apabila tokoh agama ini bisa lebih menjaga diri, kehormatan, serta kualitas diri, maka tidak mustahil akan dapat terus dipercaya oleh para pengikutnya. “Yang jelas, mereka juga manusia. Sehingga masyarakat harus rasional untuk tidak mendewakan. Mereka bukan malaikat, jadi pasti memiliki kekeliruan dan tak luput dari kesalahan,” pungkasnya.

Leave a comment

Meredam Kemurkaan Ilahi

Seorang pria muda (sebutlah ia bernama amir) mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah, betapa mulianya ber infaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi), sebagaimana hadits Rasul saw ?Sedekah dengan sembunyi sembunyi memadamkan kemurkaan Allah? (HR Thabrani dg sanad Hasan).
Maka bangkitlah di hati Amir niat luhur untuk melakukannya, ia merasa telah banyak bermaksiat dan ia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah swt, dan iapun mulai mengumpulkan hartanya, setiap ia mendapat untung dari pekerjaannya selalu ia sisihkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam ia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan uang hingga setahun lamanya, terkumpullah sejumlah uang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.

sedekah2

Malam itu Amir menaruh seluruh uangnya itu dalam kantung besar, lalu ia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya, ia berjalan ditengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tertidur di emper jalan, maka ia lemparkan kantong uangnya pada tubuh si wanita, si wanita pun kaget terbangun, dan hanya menyaksikan pria bercadar itu lari terbirit-birit. Amir membatin dalam hatinya? ?ah? wanita itu pasti berharap isi kantung itu adalah makanan, namun? MASYA ALLAH?SETUMPUK UANG DINAR?!!..wah.. dia pasti gembira dan mendoakanku..Puji syukur atas Mu Rabbiy, aku lelah setahun mengumpulkan uang untuk hal ini.., semoga Engkau menjadikannya shadaqah rahasia yang kau terima..

Keesokan harinya heboh lah kampung itu dengan kabar bahwa seorang wanita pelacur mendapat sekantung uang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya??!, mendengar berita itu maka Amir terhenyak lemas.. ia membatin?, Subhanallah.. pelacur.. sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur!, ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah.. hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina?naudzubillah?!

Amir muram dan sedih.. namun ia tetap penasaran, ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah alamat, maka ia mengumpulkan lagi harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya, setelah harta terkumpul ia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian, terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis.. ah.. ia puas memandang jerih payahnya.., iapun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa karung perhiasan itu ditengah malam.., tiba-tiba ia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan ditengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan, maka si Amir pun melemparkan karung itu pada si lelaki dan berkata : ?terimalah sedekahku..!?, lalu iapun lari terbirit-birit, agar si lelaki itu tak mengenalinya.

Keesokan harinya kampung itu gempar, semalam ada seorang perampok yang ketiban rizki sekarung perhiasan dari lelaki misterius?, ah..ah.. Amir sangat lesu.. dua tahun sudah kukumpulkan uang dengan susah payah, tapi selalu salah alamat. Namun Amir masih juga penasaran.., ia kembali kumpulkan uang.. berlanjut hingga setahun, maka ia berbuat seperti tahun yang lalu lalu, menaruh uang dinar emasnya di kantung kulit, lalu berjalan ditengah malam.. ia melihat seorang tua renta yang berjalan tertatih tatih sendirian.. nah.. ini.. pasti tak salah alamat..gumam Amir.. iapun memberikan kantung Dinar Emasnya pada Kakek itu dan lari.

Keesokan harinya kampung itu gempar lagi, seorang Kakek yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah sekantung emas dinar.. maka Amir pun roboh.. ia kapok.. berarti memang ia adalah pria busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, 3 tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.., Amir pun berdoa : ?Rabbiy kalau kau menerima sedekahku itu maka tunjukkanlah?.

Zaman terus berlanjut tanpa terasa, puluhan tahun kemudian Amir sudah tua renta, di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama adik kakak, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai murid ribuan, kedua Ulama itu anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu karena jatuh miskin maka ibunya akhirnya melacur untuk menghidupi anaknya, dalam suatu malam ibunya bermunajat pada Allah : ?Rabbiy, kuharamkan rizki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rizki Mu yang halal, lalu Ibu itu tertidur di emper jalan, lalu ada seorang misterius yang melemparkan sekantung uang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar, maka sang Ibu gembira, bertobat, dan menyekolahkan anaknya dengan uang itu dan hingga kedua anaknya menjadi Ulama dan mempunyai murid ribuan banyaknya…

Airmata menetes membasahi kedua pipi Amir yang sudah tua renta, oh.. sedekah ku itu ternyata diterima Allah.. dan pahalanya dijaga Allah hingga berkesinambungan dengan anak-anak sipelacur yang menjadi ulama dengan uang sedekahnya, dan memiliki murid ribuan pula, Maha Suci Allah.. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payahku.. namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua?, belum lama Amir membatin, datang pula kabar bahwa seorang Wali Allah barusaja wafat.., dia dulunya adalah perampok, suatu malam ia dilempari sekarung perhiasan oleh pria misterius, lalu ia bersyukur kepada Allah, beribadah dan beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Shalih dan Mulia, dan wafat sebagai dengan mencapai derajat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertobat ditangannya.

Amir semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah, tak lama sampai pula kabar padanya bahwa telah dibangun sebuah rumah amal, yang selalu tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membagi-bagikan hartanya pada para Fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua renta yang kaya raya di kampung itu, ia awalnya sangat kikir, namun suatu malam ia dihadiahi sekantung uang dinar emas oleh pria misterius, iapun malu dan bertobat, lalu menginfakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.

Amir tak tahan menyungkur sujud kehadirat Allah swt, betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga Amal nya yang tak berarti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan, ah.. Amir benar-benar telah mencapai cita-citanya.. yaitu sabda Rasul saw : ?Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah?, dan ia mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti, bagai menaruh saham dengan keuntungan berjuta kali lipat setiap kejapnya, betapa tidak?, apalah artinya sekantung uang dinar emas dibanding pahala sujud orang yang bertobat?, sedangkan kita mendengar hadits Rasul saw : ?Dua raka?at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya?. Lalu bagaimana dengan pahala yang bertumpuk dari sebab amal sedekahnya yang tak berarti itu?, betapa beruntungnya si pria ini, dan betapa mulia derajatnya, dan merugilah mereka yang kikir dengan hartanya, yang merasa bahwa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi, ah.. semoga aku dan kalian dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad saw, amiin..

sumber :
? Penjelasan kitab Al Hikam oleh Al Allamah Alhabib Umar bin Hafidh, pada pesantren kilat 40 hari pada Jumaditsani 1425 H di Darulmustafa Tarim, Yemen.
? Mukhtar Al Hadits

 

Sumber : http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=45&Itemid=30

Leave a comment

Kisah Pemuda Dari Jeddah

Seorang pemuda yang baru saja beberapa bulan ditinggal wafat ayahnya sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia memang mempunyai “acara khusus” setiap minggunya dengan teman-temannya untuk berkumpul sambil menonton VCD porno di rumah mendiang ayahnya, demikian acara itu berlanjut setiap minggunya.

pemuda-islam-cartoon

Malam itu setelah selesai dari perkumpulannya, ia tertidur lelap dan bermimpi, ia sedang menuju makam ayahnya, tiba-tiba ia mencium bau yang sangat busuk dari pusara ayahnya, lalu ia mendengar suara ayahnya sambil mengerang, seakan-akan menahan sakit, “Anakku, sampai kapan kau akan menyiksaku di alam kubur, ketahuilah setiap kali kalian berkumpul dirumahku dan menyaksikan film porno itu aku didatangi dua malaikat penyiksa, yang satu menuangkan cairan busuk yang keluar dari farji para pelacur yang sedang dalam siksaan kubur, dan malaikat yang lain menimpakan bara api disekujur tubuhku, mereka terus berbuat demikian dan tidak berhenti sebelum kalian selesai dari acara keparat itu dirumahku, mereka datang untuk menyiksaku seperti itu setiap minggu bertepatan waktunya dengan berkumpulnya kalian, hentikan perbuatanmu wahai anakku, kembalilah kepada Allah untuk bertobat..” anak itu tersentak dari tidurnya dalam keadaan gundah, ia tak tahu harus berbuat apa, ia terus berfikir dan berfikir, maka cahaya Hidayah pun menerangi kalbunya, ia bertobat kepada Allah swt dan mulai menjalani Cahaya petunjuk, ia berniat pada malam yang biasanya ia mengadakan acara tercela itu dirumahnya, ia akan mengadakan acara maulid Nabi besar Muhammad saw, setiap minggunya, ditempat dan waktu yang sama.

Ia menceritakan mimpi dan niatnya pada teman-temannya, merekapun setuju dengan pendapat itu, acarapun berlangsung, para pemuda yang dipenuhi cahaya tobat, maka berkumpullah hati yang dipenuhi penyesalan dan merasa sangat bersalah terhadap Maha Raja Langit dan Bumi, maka rumah itu kini terlihat dari langit bagaikan bintang gemerlapan, sebagaimana penduduk bumi memandang bintang gemerlapan dilangit, rumah yang beberapa hari yang lalu dipenuhi perbuatan yang menggetarkan pintu Kemurkaan Allah, kini di rumah itu berkumpullah hamba-hamba Nya untuk melangsungkan amal yang mengguncang pintu Rahmat Rabbul’alamin. Malam itu sang pemuda kembali bermimpi, seraya menziarahi makam ayahnya, ia mencium bau wangi yang sangat Indah, wangi Misk Kesturi, ia teringat bahwa wangi Misk Kesturi adalah wangi tubuhnya Rasulullah saw (tercantum dlm kitab Syama’il, oleh Imam Tirmidzy), lalu ia mendengar suara ayahnya dengan penuh kelembutan, “Allah melimpahkan rahmat Nya padamu wahai anakku, aku dihentikan dari segala siksa kubur karena tobatmu, dan amal perbuatanmu, aku dihadiahi Mahkota oleh Rasul saw karena rumahku dijadikan tempat menampung para tamu Rasulullah saw”.

Dari Abu Hurairah ra, Sabda Rasulullah saw “Tiga perbuatan yang masih bersambung setelah kematian : Ilmu yang bermanfaat, Shadaqah yang terus mengalir (seperti masjid, atau penerang masjid dll), dan Anak Shalih yang mendo’akannya..!”. (Hadits Hasan Riwayat Imam Tirmidzy)

 

Sumber :

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=27&Itemid=30

Leave a comment

Anakku Oh Anakku

Bu Mina sedang hamil tua, ia sedang berjalan tertatih tatih disebuah jalan, seraya selalu terbebani oleh kandungannya yang sudah besar, kemanapun ia melangkahkan kakinya, ia dibebani oleh kandungannya, dijalan, dirumah, berdiri, duduk bahkan tidurpun ia selalu terganggu oleh perutnya, hanya satu harapan yang selalu menghiburnya siang dan malam, “aku akan mendapatkan seorang anak yang akan menjadi kebanggaanku kelak”, tak ada seorang ibu yang tidak bercita-cita seperti ini, iapun terus bersabar menahan segala penderitaan yang menimpanya, hingga saat-saat melahirkanpun tiba.

jennisaris

Malam itu hujan turun dengan derasnya, Bu Mina merasakan bahwa kandungannya akan segera lahir, suaminya, Imron berlari dikegelapan malam mencari bidan yang rumahnya agak jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki, tiada yang mendorongnya untuk berlari di derasnya hujan selain keselamatan bayinya, kalau ia harus melewati lautan apipun akan ditempuhnya asalkan bayinya selamat, iapun sampai dirumah bidan yang sudah terlelap tidur, ia memaksa bidan untuk mau menolong istrinya, ia rela mengorbankan semua hartanya asalkan bidan mau menolongnya.

Bidan itu dengan enggan mengikuti Imron kerumahnya, ia melayani bidan itu lebih dari pelayanan seorang ajudan terhadap rajanya, ia memayungi bidan seakan-akan jangan sampai setetespun air hujan membasahi tubuh sang bidan, dengan penuh cemas kalau-kalau sang bidan berubah pikiran untuk membatalkan niatnya, dibiarkannya tubuh yang basah kuyup oleh derasnya hujan, mungkin apabila air hujan itu berupa batu sekalipun ia tak akan memperdulikannya.

Ketika mereka tiba ditujuan, bidanpun menyiapkan segala sesuatunya sementara Bu Mina sudah menjerit jerit menahan sakit. Waktupun berjalan dengan lambatnya, sang suami bercucuran keringat dingin menunggu keadaan yang sangat kritis, terlintas dalam pikirannya betapa indahnya kalau kepedihan sang istri dipindahkan kepadanya. Tak lama terdengarlah tangis seorang bayi yang melengking memecah kesunyian malam yang baru saja reda dari hujan lebat, tak lama bidanpun keluar memeluk sesosok bayi mungil yang masih merah, sementara sang ibu masih tak sadarkan diri, Imron menangis sambil memeluk bayi mungilnya, iapun menghadapkan dirinya kekiblat, lalu mendekatkan mulutnya ketelinga sang bayi, “Allahu Akbar.. Allahu Akbar, Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu anna Muhammadurrasulullah..”, ia mengadzankan bayinya sambil bercucuran airmata kegembiraan.

Bayi mungil itu terus diasuh oleh ibunya tanpa mengenal waktu, sang ibu mengatur segala-galanya demi kesehatan bayinya, mengatur kapan waktu bayi itu dimandikan, dengan air yang tak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, mengatur waktu agar bayi itu terkena matahari dipagi hari, memakaikan pakaiannya, membersihkan tubuhnya, membedakinya, dan segala-galanya lebih dari perhatiannya pada dirinya sendiri, dengan penuh kasih sayang. Sepasang suami istri itu terus mengayomi anak mereka tanpa mengenal bosan, seringkali sang bayi mengganggu tidur mereka, tapi itu semua tidak mengurangi kasih sayang mereka, Mereka menuntunnya berbicara, mengenal nama-nama benda, menuntunnya berjalan, dan mengajarinya semua perilaku kehidupan.

Sang ibu sudah kehilangan waktu untuk merias dirinya, sang ayahpun lupa waktu dalam bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Anak merekapun tumbuh semakin besar, tidaklah sang ayah pergi meninggalkan rumah terkecuali terbayang canda anaknya dirumah, Waktupun berjalan dengan singkatnya.

Seorang lelaki tua terbaring disebuah ranjang, ia tersengal sengal menahan detik-detik sakratulmaut, disampingnya duduklah seorang pemuda berambut gondrong dengan perawakan kusam tanpa cahaya keimanan, pemuda itu tak tahu harus berbuat apa atas ayahnya yang sudah di pintu kematiannya, lelaki tua itu hanya memandangi anaknya tanpa mampu berucap apa-apa, pikirannya melayang beberapa puluh tahun yang silam, saat ia berlari-lari ditengah derasnya hujan dikegelapan malam, ia teringat ketika ia berteriak-teriak mengucapkan salam dirumah sang bidan sambil berharap sang bidan mau membantunya, ia teringat pada saat ia mencucurkan airmata kegembiraan dengan memeluk bayi mungilnya, ia teringat tatkala ia mendekap bayi mungilnya, lalu mengadzankan sikecil, lalu menidurkan bayinya dengan senandung kasih sayang.

Kini bayi mungil itu berubah menjadi pemuda gondrong berwajah kusam dan gelap dari cahaya hidayah seakan akan ia ingin berkata.., “Tak kusangka… tak kusangka.., bayi mungilku yang dulu kuadzankan dan kutimang akan seperti ini…, aku tidak mengharapkan apa-apa darimu nak.., tapi bantulah ayah yang kini sedang dipintu kematian”, betapa hancur dan pilunya sang ayah yang harus menerima kepahitan hidup yang paling pedih.., menemui kematian dengan meninggalkan anak yang tidak mengenal keimanan, elaki tua itupun menemui kematiannya dengan menyedihkan, dengan seribu kekecewaan yang terus akan menemaninya dikuburnya.

Pagi hari itu seorang ibu setengah baya sedang duduk diberanda rumahnya memandangi kedatangan seorang pemuda berbaju putih dengan sarung dan peci yang masih dibasahi air wudhu sambil membawakan terompah ibunya dan menaruhnya dikaki sang ibu, seraya mencium tangan ibunya dan berkata “saya ngaji dulu bu” lalu berlari terburu-buru dan hilang dikegelapan malam, tangan sang ibu masih dibasahi bekas air wudhu anaknya, ibu itu memandangi kepergian anaknya sambil termenung, Segala puji bagimu wahai Allah, aku ridho terhadap anakku, limpahkan kasih sayang Mu atasnya.., tanpa terasa ibu itu  mencucurkan airmata kegembiraan melihat keadaan anaknya..,

Maka turunlah limpahan rahmat dari Yang Maha Agung terhadap pemuda itu, terhadap ibunya dan ayahnya, mereka terus dinaungi kasih sayang Nya hingga mereka satu persatu dipanggil ke hadapan Nya.

Termasuk sosok anak yang manakah dirimu wahai pembaca….?

 

Sumber :

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=30

2 Comments

Mamaah akhirnya aku di wisuda

Haloo semua apa kabar..? , alhamdulillah kali ini saya berkesempatan lagi untuk menulis.😛 sesuai dengan judulnya kali ini saya akan menulis akhir dari perjalanan saya di kampus tercinta. tepat tanggal 11 april 2013 kemarin saya telah di wisuda di Jakarta Convention Center, ga terasa kuliah 3,5 tahun telah selesai. nah ini foto-fotonya

Foto bareng teman-teman Labkom 09
Nah yang ini foto bareng anak paskibra
Kalau yang ini sama adik saya
Foto bareng anak paskibra
Kalau yang ini foto bareng nenek dan mamah tercinta

Continue Reading »